Sidang Roy Suryo dan Kesaksian Jokowi: Mengenal Error Level Analysis dalam Analisis Forensik Digital

Sidang Roy Suryo dan Kesaksian Jokowi: Mengenal Error Level Analysis dalam Analisis Forensik Digital

Persidangan kasus dugaan pencemaran nama baik terkait polemik ijazah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), kembali menjadi perhatian publik. Pada Kamis, 5 November 2026, Jokowi dijadwalkan hadir sebagai saksi dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dengan Roy Suryo sebagai salah satu terdakwa.

Kasus ini bukan hanya menarik perhatian karena melibatkan tokoh publik, tetapi juga karena ada aspek teknologi yang ikut dibicarakan, yaitu Error Level Analysis (ELA).

Buat kamu yang belum familiar, ELA merupakan salah satu teknik dalam dunia forensik digital yang digunakan untuk menganalisis karakteristik kompresi pada gambar, khususnya gambar berformat JPEG.

Lantas, apa sebenarnya ELA itu? Bagaimana cara kerjanya? Dan mengapa hasil analisisnya perlu ditafsirkan dengan hati-hati?

Yuk, kita bahas satu per satu!

Mengenal Error Level Analysis (ELA)

Error Level Analysis atau ELA adalah teknik analisis gambar digital yang digunakan untuk melihat perbedaan tingkat kompresi pada bagian-bagian tertentu dalam sebuah gambar.

Sederhananya, ELA mencoba memperlihatkan apakah ada bagian gambar yang memiliki karakteristik kompresi berbeda dibandingkan bagian lainnya.

Teknik ini banyak dibahas dalam bidang digital image forensics atau forensik gambar digital, terutama untuk membantu proses pemeriksaan kemungkinan adanya manipulasi pada sebuah gambar.

Misalnya, kamu punya sebuah foto dalam format JPEG. Kemudian, ada bagian tertentu yang diduga pernah ditempel, diedit, atau dimodifikasi. ELA dapat membantu memperlihatkan perbedaan karakteristik kompresi pada bagian tersebut.

Namun, ada satu hal yang perlu dipahami: perbedaan tingkat kompresi tidak otomatis berarti gambar tersebut telah dimanipulasi.

Inilah alasan mengapa ELA tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan keaslian sebuah gambar atau dokumen.

Bagaimana Cara Kerja ELA?

Supaya lebih mudah dipahami, kita perlu mengenal sedikit cara kerja format gambar JPEG.

JPEG merupakan format gambar yang menggunakan metode kompresi lossy. Artinya, ketika gambar disimpan dalam format JPEG, sebagian informasi visual akan dikurangi untuk menghasilkan ukuran file yang lebih kecil.

Setiap kali gambar disimpan ulang, proses kompresi dapat menghasilkan perubahan tertentu pada data gambar.

Nah, ELA memanfaatkan karakteristik tersebut.

Secara umum, prosesnya berlangsung melalui beberapa tahapan:

  1. Memasukkan gambar asli

    Gambar digital yang akan diperiksa dimasukkan ke dalam perangkat atau aplikasi analisis ELA. Biasanya, gambar yang digunakan berformat JPEG.

  2. Menyimpan ulang gambar

    Gambar tersebut disimpan kembali menggunakan tingkat kualitas JPEG tertentu.

  3. Membandingkan hasil kompresi

    Sistem kemudian membandingkan gambar awal dengan gambar yang sudah disimpan ulang untuk melihat perbedaan nilai pikselnya.

  4. Menghasilkan visualisasi ELA

    Perbedaan tersebut ditampilkan dalam bentuk gambar hasil analisis. Area tertentu bisa terlihat lebih terang dibandingkan area lainnya.

  5. Melakukan interpretasi

    Hasil visualisasi kemudian diperiksa untuk mencari pola atau perbedaan yang mungkin berkaitan dengan proses pengolahan gambar.

Dari proses tersebut, ELA dapat memberikan petunjuk awal mengenai adanya ketidakkonsistenan kompresi pada sebuah gambar.

Apakah Area Terang pada ELA Berarti Gambar Palsu?

Ini bagian yang cukup penting untuk dipahami.

Ketika melihat hasil ELA, sebagian orang mungkin menganggap bahwa area yang terlihat lebih terang merupakan bagian gambar yang telah diedit atau dimanipulasi.

Padahal, interpretasinya tidak sesederhana itu.

Area terang pada hasil ELA menunjukkan adanya perbedaan respons kompresi pada bagian tertentu. Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan proses pengeditan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain.

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi hasil ELA antara lain:

  • Tingkat kualitas kompresi JPEG.

  • Proses penyimpanan ulang gambar.

  • Pengubahan ukuran atau resolusi gambar.

  • Pengolahan gambar menggunakan aplikasi tertentu.

  • Kompresi ulang oleh platform media sosial.

  • Perbedaan karakteristik tekstur dan detail pada gambar.

Jadi, menemukan area yang lebih terang dalam hasil ELA belum cukup untuk menyimpulkan bahwa sebuah gambar merupakan hasil manipulasi.

Begitu juga sebaliknya. Hasil ELA yang terlihat relatif seragam tidak otomatis menjamin bahwa gambar tersebut sepenuhnya asli.

Dengan kata lain, ELA memberikan petunjuk analitis, bukan keputusan akhir.

Menilik Penggunaan ELA dalam Polemik Ijazah Jokowi

Dalam perkara yang sedang berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, metode Error Level Analysis menjadi salah satu aspek yang disorot dalam dakwaan terhadap Roy Suryo.

Berdasarkan pemberitaan mengenai uraian dakwaan jaksa, Roy Suryo disebut melakukan analisis terhadap citra digital ijazah Jokowi menggunakan metode ELA. Jaksa juga mempersoalkan sumber gambar dan proses verifikasi yang dilakukan sebelum hasil analisis tersebut disampaikan kepada publik.

Hal ini kemudian memunculkan pembahasan yang lebih luas mengenai bagaimana sebuah metode forensik digital seharusnya digunakan dan diinterpretasikan.

Penting untuk dicatat bahwa uraian tersebut merupakan bagian dari dakwaan jaksa, bukan kesimpulan akhir pengadilan. Penilaian terhadap seluruh bukti dan keterangan para pihak tetap menjadi kewenangan majelis hakim.

Dari sisi teknologi, ada beberapa hal yang memang layak diperhatikan ketika ELA digunakan untuk menganalisis sebuah dokumen digital.

1. Sumber gambar menjadi hal penting

Dalam analisis forensik digital, sumber file merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan.

Gambar yang diperoleh dari media sosial belum tentu memiliki karakteristik yang sama dengan file digital aslinya. Platform media sosial biasanya melakukan kompresi atau pengolahan ulang terhadap gambar yang diunggah.

Akibatnya, data dan karakteristik gambar bisa mengalami perubahan.

Karena itu, seorang analis perlu mengetahui asal-usul file, bagaimana gambar diperoleh, dan apakah gambar tersebut sudah mengalami proses pengolahan sebelumnya.

2. Hasil ELA membutuhkan interpretasi

ELA memang dapat memperlihatkan perbedaan tingkat kompresi. Namun, membaca hasilnya membutuhkan pemahaman teknis.

Tidak semua perbedaan visual menunjukkan adanya manipulasi. Bahkan, gambar yang tidak mengalami pengeditan tertentu pun bisa memperlihatkan variasi pada hasil analisis karena proses kompresi.

Artinya, interpretasi hasil ELA perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum menarik kesimpulan.

3. Satu metode tidak cukup untuk menentukan keaslian dokumen

Dalam pemeriksaan forensik digital, penggunaan beberapa metode pemeriksaan dapat membantu menghasilkan analisis yang lebih menyeluruh.

Selain ELA, pemeriksa dapat mempertimbangkan metadata, struktur file, riwayat kompresi, karakteristik piksel, serta metode analisis forensik lainnya.

Jika yang diperiksa adalah dokumen fisik, pemeriksaan terhadap dokumen aslinya juga memiliki peran tersendiri.

Hal ini penting karena analisis terhadap foto atau hasil pemindaian dokumen tidak selalu bisa menjelaskan seluruh kondisi dokumen fisik yang menjadi objek pemeriksaan.

Apa Saja Keterbatasan Error Level Analysis?

Meskipun cukup populer dalam pembahasan forensik gambar, ELA tetap memiliki keterbatasan.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Pertama, ELA sangat bergantung pada karakteristik JPEG.

Metode ini berkaitan erat dengan proses kompresi JPEG. Karena itu, penerapannya tidak bisa disamakan begitu saja dengan pemeriksaan terhadap semua format gambar.

Kedua, hasilnya dapat dipengaruhi kompresi ulang.

Gambar yang sudah berkali-kali disimpan ulang atau diunggah ke berbagai platform dapat mengalami perubahan karakteristik kompresi. Hal ini bisa membuat hasil ELA menjadi lebih sulit diinterpretasikan.

Ketiga, hasil analisis dapat menimbulkan indikasi yang keliru.

Perbedaan tingkat kompresi tidak selalu disebabkan oleh manipulasi. Jika hasilnya dibaca tanpa mempertimbangkan faktor lain, seseorang bisa menarik kesimpulan yang kurang tepat.

Keempat, ELA bukan alat penentu keaslian dokumen.

Metode ini tidak dirancang untuk memberikan keputusan mutlak bahwa suatu dokumen asli atau palsu. Hasilnya perlu dikombinasikan dengan pemeriksaan lain dan bukti yang relevan.

Pentingnya Literasi Forensik Digital di Era Media Sosial

Kasus yang sedang menjadi perhatian publik ini memberikan satu pelajaran menarik tentang pentingnya memahami teknologi sebelum menggunakan hasilnya untuk menyampaikan sebuah kesimpulan.

Saat ini, berbagai aplikasi dan teknik analisis gambar bisa digunakan oleh siapa saja. Bahkan, beberapa tools forensik digital dapat diakses secara gratis melalui internet.

Namun, kemudahan menggunakan teknologi tidak selalu berarti seseorang sudah memahami cara membaca hasilnya.

Sebuah gambar yang terlihat mencurigakan belum tentu merupakan hasil manipulasi. Begitu juga hasil analisis yang memperlihatkan anomali belum tentu cukup untuk membuktikan adanya pemalsuan.

Karena itu, penting untuk membedakan antara temuan teknis, interpretasi analis, dan kesimpulan akhir berdasarkan keseluruhan bukti.

Apalagi ketika hasil analisis tersebut berkaitan dengan isu publik dan menyangkut reputasi seseorang.

Teknologi seharusnya membantu proses pencarian fakta, bukan menjadi alasan untuk mengambil kesimpulan secara terburu-buru.

Kesimpulan

Error Level Analysis merupakan salah satu teknik yang berguna dalam dunia forensik gambar digital. Metode ini dapat membantu mengidentifikasi perbedaan karakteristik kompresi pada gambar JPEG dan menjadi salah satu petunjuk dalam pemeriksaan kemungkinan manipulasi.

Namun, ELA memiliki keterbatasan dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai alat untuk menentukan keaslian suatu dokumen.

Polemik penggunaannya dalam perkara Roy Suryo dan ijazah Jokowi menjadi pengingat bahwa sebuah hasil analisis teknologi perlu dipahami sesuai dengan kemampuan dan batasan metodenya.

Pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya teknologi apa yang digunakan, tetapi juga bagaimana proses pemeriksaan dilakukan, bagaimana hasilnya ditafsirkan, dan apakah kesimpulannya didukung oleh bukti lain yang memadai.

Sebab, dalam dunia forensik digital, indikasi bukanlah bukti akhir, dan hasil analisis tetap membutuhkan proses verifikasi.


Referensi:

Semua artikel